Sabtu, 05 Maret 2011

Jumlah gigi susu


Gigi susu membantu anak untuk mengunyah makanan, berbicara, dan berbagai fungsi lainnya. Jika rusak, fungsi gigi susu tidak akan optimal. Dengan melakukan perawatan gigi susu pada anak maka terjadinya kerusakan gigi secara dini dapat dikurangi.
Umumnya pertumbuhan gigi susu muncul sewaktu bayi berusia 6 sampai 24 bulan. Jumlah gigi susu ini sebanyak 20 buah, yaitu 8 buah gigi seri, 4 gigi taring, dan 8 buah gigi geraham. Jumlah gigi antara rahang atas dengan rahang bawah adalah sama. Umumnya, gigi seri bagian bawah yang pertama kali muncul pada anak.
Saat mengalami pertumbuhan gigi, biasanya anak merasa tidak nyaman dan agak rewel. Berikan mainan bayi yang aman untuk digigit. Atau gunakan handuk bersih yang dingin untuk digigit.
Gigi susu berukuran lebih kecil dan memiliki jarak yang lebih renggang dibandingkan gigi orang dewasa (gigi tetap), sehingga gigi permanen dapat menempati rahang dengan ‘pas’. Selain mengunyah makanan, gigi susu juga berfungsi untuk membantu anak berbicara dan mempersiapkan tempat bagi gigi permanen.

Kelainan atau penyakit rongga mulut dan gigi merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas. Hampir sekitar 60% masyarakat Indonesia pernah mengalami gangguan pada gigi. Pada tahun 1980, ditemukan bahwa hampir 90% anak sekolah mempunyai kelainan gigi atau rongga mulut. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan rongga mulut perlu mendapatkan perhatian khusus.

Jaringan Rongga Mulut

Dalam rongga mulut, terdapat beberapa jaringan yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu :
* Jaringan Keras (rahang atas, rahang bawah, dan gigi).
* Jaringan Lunak (gusi, lidah, mukosa pipi, mukosa bibir, mukosa lidah, mukosa palatum, dan jaringan dasar lidah).

Fungsi Gigi
Secara histologis, jaringan gigi dan mulut berasal dari mesoderm dan ektoderm, yang memiliki 3 fungsi utama yaitu, pengunyahan (mastikasi), keindahan (estetika), dan berbicara (phonetic). Dalam mulut, gigi tertanam dalam tulang rahang dan dilindungi oleh gusi (gingiva), dengan bentuk yang berbeda – beda sesuai dengan fungsinya.

Gigi Seri (Incisivus)
Gigi ini letaknya berada di depan, dan berfungsi untuk memotong makanan (mastikasi). Jumlahnya ada 8, dengan pembagian 4 berada di rahang atas dan 4 berada di rahang bawah. Gigi seri susu mulai tumbuh pada bayi usia 4 – 6 bulan, kemudian diganti dengan gigi seri permanen pada usia 5 – 6 tahun pada rahang bawah dan pada usia 7 – 8 tahun pada rahang atas.

Gigi Taring (Caninus)
Posisi gigi ini terletak pada sudut mulut, di sebelah gigi seri, dan merupakan gigi yang paling panjang dalam rongga mulut. Fungsinya adalah untuk mengoyak makanan. Jumlahnya ada 4, dengan pembagian 2 ditiap rahang, 1 di kiri dan 1 di kanan. Gigi susu caninus ini diganti dengan gigi caninus permanen pada usia 11 – 13 tahun.

Gigi Geraham Kecil (Premolar)
Gigi ini jumlahnya 8, dengan pembagian 4 ditiap rahang, 2 di kiri dan 2 di kanan. Gigi ini hanya ada pada gigi dewasa, dan letaknya berada di belakang caninus. Tumbuh pada usia 10 – 11 tahun dan menggantikan posisi dari gigi molar susu. Bersama gigi molar, gigi ini berfungsi untuk melumatkan makanan, dan pada proses orthodontie, gigi ini sering “dikorbankan”.

Gigi Geraham (Molar)
Gigi molar susu berjumlah 8 seperti gigi premolar, kemudian lepas pada usia 10 – 11 tahun dan digantikan oleh gigi premolar. Sedangkan gigi molar permanen tumbuh di belakang gigi premolar setelah gigi molar susu lepas dan digantikan oleh gigi premolar. Jumlah dari gigi molar permanen adalah 12, dengan pembagian 6 di tiap rahang, 3 di tiap sisi kanan dan kiri. Gigi molar permanen inilah yang paling sering berlubang dan menyebabkan keluhan.

Proses Pertumbuhan Gigi
Dalam pertumbuhannya, gigi mengalami 2 fase pergantian. Diawali dari pertumbuhan gigi susu yang lengkap pada umur 3 tahun dengan jumlah 20 gigi, kemudian diganti dengan fase gigi tetap yang diawali pada usia 13 tahun keatas. Pertumbuhan gigi tetap ini menjadi lengkap setelah jumlah gigi menjadi 32 gigi, sekitar umur 17 – 21 tahun. Fase diantara awal fase gigi tetap sampai gigi tetap yang lengkap disebut fase gigi campuran, yaitu antara umur 13 – 17 tahun.

kebanyakan anak kecil akan takut berobat ke dokter gigi dengan berbagai alasan, terutama takut salat karena dicabut. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, si kecil tidak akan takut jika diajak berkunjung ke dokter gigi

AHLI gigi drg Ratu Mirah Afifah GCClinDent, MDSc kepada sehat.com mengatakan, jika anak sudah dibiasakan periksa ke dokter gigi sejak kecil, maka anak itu tidak akan mengalami trauma dengan dokter gigi. Lain halnya jika anak tersebut diajak ke dokter gigi setelah giginya rusak atau sakit.

"Kalau masih kecil kan hanya periksa rutin sehingga tidak ada yang dicabut. Ini menimbulkan kesan kalau dokter gigi tidak jahat atau kunjungan ke dokter gigi selalu dicabut giginya," jelas Ratu.

Selama ini, lanjut Ratu, dokter gigi punya imej yang kurang baik di mata anak kecil. Tak jarang seorang anak harus dipaksa mati-matian untuk sekedar berkunjung ke dokter gigi. Maka, untuk menghilangkan kesan tersebut dibutuhkan peran serta orangtua. Orangtua harus mulai membiasakan untuk membawa anak ke dokter gigi.

"Perawatan sejak dini penting untuk mencegah berbagai macam gangguan gigi dan gusi. Tak hanya untuk menghilangkan kesan seram tentang dokter gigi," imbuh Ratu. Merawat gigi anak temyata gampang-gampang susah. Pengetahuan tentang pertumbuhan gigi bagi orangtua pun tak kalah penting.

Kerapian dan keindahan gigi seseorang tak bisa lepas dari faktor genetik. "Kalau orangtua punya gigi berantakan, umumnya gigi anak juga akan berantakan," jelas Drg. Lita Darmawan dari Klinik Kharinta, Bintaro Jaya, Jakarta. Selain itu, faktor kebiasaan juga sering menjadikan tumbuhnya gigi tak bagus. Misalnya, anak masih nge-dot sampai besar, atau hobi mengisap jempol. "Cuma, sekarang memang banyak cara untuk memperbaiki posisi gigi."

Sebenarnya, pertumbuhan gigi sendiri dimulai dengan munculnya gigi susu sejak usia 2 bulan sampai 2 tahun. Jumlah gigi susu biasanya 20 buah, 10 gigi atas dan 10 gigi bawah. Pertumbuhan gigi susu dimulai dengan gigi seri bagian bawah, disusul gigi seri bagian atas. Selanjutnya, tumbuh gigi seri susu ke-2, baru kemudian tumbuh geraham susu di usia usia 8-9 bulan. Gigi susu yang terakhir tumbuh adalah gigi taring susu.

"Semua gigi susu ini nantinya akan digantikan oleh gigi dewasa (gigi tetap), yang tumbuh mulai usia 6-12 tahun, meskipun terkadang lebih," kata Lita.

Pertumbuhan gigi tetap biasanya diawali oleh gigi seri, baru kemudian geraham kecil. Jadi, sehabis gigi seri, dilanjutkan geraham kecil bawah, geraham kecil atas, baru kemudian taring. Selain itu, ada pula geraham tetap, yang tidak menggantikan gigi susu, yang mulai muncul di usia sekitar 6 tahun.

"Ini yang oleh orang-orang sering disangka sebagai gigi susu, padahal sebetulnya gigi tetap. Akibatnya, di usia 8-9 tahun, geraham tetap ini umumnya sudah rusak. Padahal, kalau sudah rusak, tidak ada gigi yang menggantikan," kata Lita.

Gigi yang tumbuh terakhir adalah gigi taring, biasanya di usia 9-12 tahun. Sering terjadi, rahang sempit, sehingga taring akhirnya tumbuh sebagai gingsul. "Ini karena tidak ada tempat lagi untuk taring tumbuh, ditambah adanya dorongan, akhirnya muncul gingsul," jelas lita.

Orangtua sering menganggap gingsul sebagai sesuatu yang mengganggu, sehingga memutuskan untuk mencabutnya. Padahal, taring ini merupakan sudut estetik wajah seseorang. Kenapa? "Karena taring memiliki akar paling panjang, sehingga kalau dicabut, tulang wajah akan berubah karena kempot, sehingga sering jadi kelihatan lebih tua." Kalau maudiperbaiki, yang dicabut biasanya geraham kecilnya, bukan taringnya.

Gigi Rusak Sejak Kecil

Bagaimana jika gigi susu anak sudah rusak sejak kecil? Sebaiknya jangan didiamkan. "Ingat, sumber kuman paling besar adalah di dalam mulut. Nah, kuman ini kemudian beredar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Jadi, jika gigi anak rusak, misalnya berlubang, bisa jadi anak akan sering sariawan atau sering salat," lanjut Lita. Yang perlu diketahui, gigi berlubang ternyata bisa memicu timbulnya berbagai penyakit, dari kencing manis sampai jantung. Jadi, jika gigi susu anak rusak atau berlubang, paling tidak, usahakan agar tidak menjadi lebih parah.

Kenapa? Karena kalau sampai rusaknya parah dan mengenai saraf, bisa-bisa timbul bengkak di gusi.

Kalau gigi tetap anak tumbuh tepat waktu, maka tindakan yang dilakukan adalah meminimalisir kerusakan gigi susu, toh sebentar lagi gigi tetapnya akan tumbuh. Tapi, kalau gigi tetap anak tumbuh tidak tepat waktu, misalnya baru tumbuh di usia 7 tahun,

"Masak kita akan membiarkan anak sakit gigi terus sampai gigi tetapnya muncul? Ini tentu juga akan mempengaruhi aktivitas dan kecerdasan anak. Kalau anak sering sakit gigi dan tak mau makan, tentu ia jadi tak punya tenaga untuk beraktivitas dan berpikir. Anak pun cenderung rewel."

Kehilangan gigi sejak dini juga bisa mengakibatkan gangguan bentuk atau pertumbuhan gigi yang lain. "Kalau gigi susu tanggal lebih dini, maka gigi tetap akan tumbuh tanpa guidance, sehingga bisa tumbuh seenaknya aja," jelas Lita.

Yang juga harus diantisipasi adalah jika gigi tetap anak ternyata tak ada. "Terkadang, ada anak yang memang tidak memiliki gigi tetap. Misalnya, benih geraham tidak ada. Ini tentu akan berakibat fungsi pengunyahannya terganggu. Nah, kalau geraham susunya sudah rusak atau tanggal, berarti tidak ada penggantinya karena benih geraham tetapnya tidak ada." Kalau ini diketahui sejak awal, geraham susu bisa dirawat dan dipertahankan supaya tetap ada. "Jadi nggak masalah sekalipun gigi tetap tidak ada.

Pasalnya, gigi susu akan tanggal atau goyah kalau memang hilang akarnya. Sementara akar gigi susu akan dimakan (di-absorpsi) oleh gigi tetap."

Untuk memastikan apakah benih gigi tetap anak ada, satu-satunya jalan adalah dengan foto panora-mik. "Ini bisa dilakukan di usia sekitar 5 tahun, di masa transisi dari gigi susu ke gigi tetap."

Fluoride sangat penting untuk memperkuat ena-mel gigi, sehingga gigi tak gampang rusak. Fluoride bisa diberikan dalam bentuk gel atau pil. "Biasanya dimulai sejak anak berusia setahun atau dua tahun, dan diulang setahun kemudian," jelas Lita. Di usia 2 tahun, biasanya gigi anak masih bagus, sehingga proses fluoridasi bisa maksimal.

Pasta gigi juga mengandung fluoride. "Tapi, biasanya anak nggak terlalu suka pasta gigi yang rasanya pahit. Mereka lebih suka pasta gigi yang memiliki rasa, misalnya rasa stroberi, orange, dan sebagainya. Padahal, kadar fluoride pasta gigi dengan rasa seperti itu biasanya sedikit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar